REDAKSI BERKUDA — Kejuaraan berkuda bertajuk The Galuh S* Open 2026 sukses diselenggarakan di Arthayasa Stable, Limo, Depok, Jawa Barat, pada 31 Oktober–1 November 2026. Menghadirkan sejumlah rider papan atas nasional hingga atlet-atlet muda potensial, kejuaraan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing atlet berkuda Indonesia, khususnya pada disiplin Jumping.
Lebih dari 580 entri peserta dari berbagai stable di wilayah Pulau Jawa turut ambil bagian dalam kejuaraan yang mempertandingkan 19 kelas Jumping selama dua hari. Dari seluruh nomor yang dilombakan, kelas Jumping 140 cm menjadi pertandingan paling bergengsi sekaligus menyita perhatian berkat persaingan sejumlah rider berpengalaman yang telah malang melintang di berbagai kejuaraan tingkat nasional.
Namun, di balik ketatnya persaingan tersebut, The Galuh S* Open 2026 juga membawa misi yang lebih besar, yakni membangun kesinambungan pembinaan atlet agar mampu memenuhi standar kompetisi di tingkat internasional.

Jumping 140 Cm, Fondasi Menuju Level Internasional
Event Director The Galuh S* Open 2026 sekaligus pemilik Arthayasa Stable, Rafiq Hakim Radinal, menegaskan pentingnya penyelenggaraan kejuaraan yang memberikan kesempatan kepada para atlet untuk terus mengembangkan kemampuan, terutama bagi mereka yang telah berkompetisi pada kelas-kelas lompatan tinggi.
“Kita wajib untuk terus menyelenggarakan event pembinaan kepada seluruh atlet khususnya yang telah bertanding di kelas-kelas tinggi seperti 140 cm. Sesuai dengan nama kejuaraan The Galuh S* Open yang mengadopsi ‘S*’ sebagai lompatan 140 cm one star,” tutur Rafiq.
Rafiq, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Equestrian PP PORDASI dan merupakan Course Designer berlisensi FEI Level 3, memandang bahwa kemampuan berkompetisi pada ketinggian 140 cm menjadi salah satu fondasi penting bagi rider yang dipersiapkan menuju ajang multievent regional maupun internasional.

Menurutnya, proses pembinaan harus dilakukan secara konsisten agar para atlet tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental, pengalaman bertanding, serta kematangan dalam menghadapi berbagai karakteristik lintasan pertandingan.
“Dari hasil pertandingan di kelas 140 cm, saya melihat para rider sudah mulai berkembang dan ada beberapa nama yang mulai masuk meramaikan kompetisi. Meskipun masih ada beberapa kekurangan, hal itulah yang akan kita perbaiki terus,” sambung Rafiq.
Perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi regenerasi atlet Jumping Indonesia. Kehadiran nama-nama baru dalam persaingan kelas tinggi diharapkan dapat memperluas pilihan atlet potensial yang nantinya dipersiapkan untuk memperkuat tim nasional.

Gagas Latihan Bersama dengan Tantangan Lebih Tinggi
Menariknya, Rafiq juga menyoroti keterbatasan kesempatan bertanding pada kelas-kelas lompatan tinggi yang belum tentu tersedia dalam setiap penyelenggaraan kejuaraan. Kondisi tersebut dinilainya menjadi salah satu tantangan dalam menjaga konsistensi kemampuan para atlet, mengingat peningkatan kualitas rider dan kuda membutuhkan proses latihan serta evaluasi secara berkesinambungan.
Sebagai langkah pengembangan, Rafiq menggagas penyelenggaraan sesi Latihan Bersama yang secara khusus memberikan kesempatan kepada para rider untuk mengasah kemampuan mereka. Program tersebut bahkan berpeluang menghadirkan desain lintasan dengan tingkat kesulitan yang lebih menantang dibandingkan pertandingan reguler.

Melalui pendekatan tersebut, para atlet diharapkan semakin terbiasa menghadapi kombinasi rintangan, pengaturan jarak, serta tuntutan teknis yang membutuhkan ketepatan, konsentrasi, dan kerja sama optimal antara rider dan kuda. Program ini juga diharapkan menjadi sarana evaluasi untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki sebelum para atlet menghadapi kompetisi dengan tingkat kesulitan lebih tinggi.
“Kami berharap agar pembinaan yang diselenggarakan dapat bermanfaat bagi para atlet, dan apabila negara membutuhkan mereka untuk bertanding di ajang multi event misalnya, maka mereka akan siap,” tegas Rafiq.
Persaingan Rider Papan Atas, Gadis Kireina Kembali Bersinar
Sementara itu, persaingan di kelas Jumping 140 cm berlangsung kompetitif dengan kehadiran sejumlah rider papan atas Indonesia. Nama-nama seperti Ferry Wahyu Hadiyanto, Andry Sutoyo, Jendry Palandeng, Yayat Subrata, Sandy Jonathan, hingga Rahman Setiawan turut meramaikan pertandingan di kelas tertinggi tersebut.
Kehadiran Rahman Setiawan menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Rider yang baru saja menjalani debutnya bersama Tim Indonesia pada Asian Games Aichi–Nagoya 2026 itu kembali tampil dalam persaingan domestik, sekaligus menambah kualitas kompetisi yang diikuti para atlet berpengalaman.

Di tengah dominasi sejumlah nama senior, perhatian juga tertuju kepada atlet junior putri potensial, Gadis Kireina Iskandar, yang kembali memperlihatkan kualitasnya melalui pencapaian prestasi gemilang.
Gadis berhasil membukukan tiga medali emas dan satu medali perunggu sepanjang penyelenggaraan The Galuh S* Open 2026. Pencapaian tersebut semakin mempertegas konsistensi performanya dalam persaingan Jumping nasional, sekaligus memperlihatkan potensi atlet muda Indonesia untuk terus berkembang menuju level pertandingan yang lebih tinggi.Perpaduan antara rider senior berpengalaman dan atlet-atlet muda potensial menjadikan The Galuh S* Open 2026 bukan sekadar arena perebutan gelar juara, tetapi juga ruang pembelajaran dan pengembangan kualitas kompetisi.






