Ada kalanya sebuah pertandingan bukan hanya tentang siapa yang berhasil berdiri di podium tertinggi. Ada cerita tentang keberanian mengambil risiko, kepercayaan antara rider dan kuda, serta keyakinan bahwa usia bukan selalu menjadi batas untuk tampil kompetitif. Cerita itulah yang dibawa rider Fahmi Satria, wakil Arthayasa Stable, bersama Amanda, kuda milik Putri Zulkifli Hasan, saat mengikuti kelas Eventing dalam Open Tournament Berkuda Piala Panglima TNI yang berlangsung di Yonkavkud I Sembrani Ronggolawe, Parongpong, Bandung Barat, Jawa Barat, 2–6 September 2026.
Bukan Pasangan yang Diunggulkan
Partisipasi Fahmi bersama Amanda dalam kejuaraan tersebut bisa dibilang cukup nekat. Pasalnya, Amanda telah berusia 21 tahun dan harus menjalani pertandingan eventing selama tiga hari yang membutuhkan kondisi fisik, stamina, konsentrasi, serta keberanian yang prima. Tantangan semakin berat karena venue pertandingan di Parongpong memiliki karakter medan perbukitan dengan kontur tanah yang cukup berat, terutama pada kategori cross country atau lintas alam. Di atas kertas, usia Amanda dan minimnya pengalaman turun di kelas eventing tentu membuat pasangan ini bukan pilihan yang paling diunggulkan. Namun Fahmi justru melihat sisi lain dari Amanda dan memilih percaya pada kemampuan kudanya.

Awal yang Belum Sesuai Target
Pada pertandingan hari pertama di kategori dressage, Fahmi dan Amanda mengawali kompetisi dengan skor akhir 61,957 persen. Hasil tersebut membuat mereka sementara berada di peringkat kesembilan dengan total 38 poin penalti dari 12 peserta yang berpartisipasi. Hasil tersebut memang belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan Fahmi sebelum pertandingan.
“Saya kehilangan banyak poin di kategori dressage. Dari target poin 65 persen, saya hanya meraih poin 61 persen. Penyebabnya lebih dikarenakan peak performa Amanda yang berlebih saat itu sehingga ada beberapa gerakan yang kurang akurat saat pertandingan,” ujar Fahmi.
Posisi kesembilan tidak membuat Fahmi kehilangan kepercayaan diri. Memasuki hari kedua, pasangan ini harus menghadapi kategori cross country yang menjadi salah satu ujian terberat dalam pertandingan eventing. Medan lintasan yang memiliki karakter perbukitan dan beberapa rintangan dengan kontur tanah menurun menjadi tantangan tersendiri bagi Amanda. Namun perlahan tetapi pasti, Fahmi mampu membawa Amanda melewati seluruh lintasan dengan hasil clear round dan catatan waktu 224,12 detik. Tidak hanya berhasil menyelesaikan lintasan tanpa tambahan penalti, hasil tersebut juga membuat posisi Fahmi dan Amanda terdongkrak ke peringkat keempat dengan tetap mempertahankan 38 poin penalti yang diperoleh dari hari pertama.

Dari Peringkat 9 Menuju Podium
Pertandingan kemudian memasuki hari ketiga yang menjadi partai puncak di kategori jumping. Berada di posisi keempat, Fahmi dan Amanda masih memiliki peluang untuk memperbaiki posisi akhir. Keduanya kembali menunjukkan penampilan yang cukup baik dengan menyelesaikan pertandingan dengan 4 poin penalti dan catatan waktu 56,53 detik. Hasil tersebut akhirnya membawa Fahmi dan Amanda menempati posisi runner-up sekaligus berhak atas medali perak kelas Eventing Piala Panglima TNI. Perubahan posisi tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa peserta yang sebelumnya berada di peringkat atas namun gagal tampil maksimal pada pertandingan terakhir, sehingga terjadi pergeseran posisi dalam klasemen akhir.
Amanda 21 Tahun, Masih Mampu Bersaing
Bagi Fahmi, keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi catatan prestasi pribadi, tetapi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap performa Amanda yang mampu menjaga konsistensinya meski telah memasuki usia 21 tahun.
“Saya sangat bangga dengan performa Amanda yang mampu tampil konsisten meski di usia yang tak muda lagi. Semua ini berkat kerja keras semua elemen tim, mulai dari groom, pelatih, dan dukungan horse owner,” terang Fahmi. Dalam menghadapi pertandingan tersebut, Fahmi juga mendapatkan dukungan dari salah satu atlet eventing senior Indonesia, Riko Ganda Febryyanto, yang turut memberikan dukungan dalam proses persiapan.

Persiapan Ekstra untuk Kuda Senior
Persiapan menghadapi kejuaraan ini memang tidak dilakukan dengan cara biasa. Usia Amanda yang sudah tidak muda lagi, ditambah pengalaman tampil di kelas eventing yang masih minim, membuat Fahmi dan tim harus memberikan perhatian lebih terhadap kondisi fisik serta stamina Amanda. Latihan lebih banyak difokuskan pada pemulihan stamina dan adaptasi terhadap arena pertandingan. Salah satu tantangan yang harus diatasi adalah rintangan dengan kontur tanah menurun yang sempat membuat Amanda merasa takut.
“Awalnya banyak yang meragukan, bahkan owner Amanda pun sempat terkejut. Namun saya yakin dengan kemampuan Amanda. Persiapan lebih difokuskan pada pemulihan stamina Amanda dan terus berlatih di arena pertandingan, terutama di rintangan dengan kontur tanah menurun yang sempat membuat Amanda takut,” lanjut Fahmi.
Eventing Bukan Sekadar Soal Rider
Keberhasilan Fahmi dan Amanda meraih medali perak di Piala Panglima TNI tentu layak menjadi sorotan. Eventing bukan sekadar pertandingan yang mengandalkan kemampuan rider, tetapi olahraga yang menuntut adanya sinergi antara dua makhluk hidup yang harus saling memahami sepanjang pertandingan. Rider harus mampu membaca kondisi kudanya, sementara kuda harus memiliki kepercayaan terhadap setiap arahan yang diberikan rider. Dalam konteks tersebut, Amanda memberikan sebuah gambaran menarik bahwa usia tidak selalu menjadi penghalang untuk tampil kompetitif. Dengan perawatan yang baik, latihan yang terukur, serta pengelolaan stamina yang tepat, kuda berusia 21 tahun masih mampu menyelesaikan pertandingan dengan baik dan bahkan membawa pulang medali.
Sementara bagi Fahmi, tantangan terbesar dalam pertandingan tersebut bukan semata-mata bagaimana memenangkan perlombaan. Lebih dari itu, bagaimana seorang rider mampu membawa kuda yang dipercayakan kepadanya untuk tampil maksimal di setiap kategori pertandingan. Bersama Amanda, Fahmi mampu menunjukkan hal tersebut. Dari posisi kesembilan setelah dressage, kemudian naik ke peringkat keempat setelah cross country, hingga akhirnya finis sebagai runner-up setelah jumping, perjalanan tiga hari mereka menjadi bukti bahwa hasil pertandingan tidak selalu bisa dibaca hanya dari kondisi awal di atas kertas.

Performa Fahmi yang Terus Menanjak
Performa Fahmi di Parongpong juga semakin menarik jika melihat perkembangan prestasinya dalam beberapa kejuaraan terakhir. Pada Agustus 2026 lalu, Fahmi berhasil menyabet Piala Presiden dalam ajang Mandiri Merdeka Master 2026. Konsistensi penampilannya dalam beberapa pertandingan terakhir menunjukkan adanya perkembangan positif dalam kemampuan Fahmi sebagai rider. Bukan hanya dari sisi teknik berkuda, tetapi juga bagaimana ia membaca kondisi kuda dan mengambil keputusan sepanjang pertandingan.
baca juda :
https://redaksiberkuda.com/digempur-dua-junior-fahmi-satria-juara-piala-presiden-2026/
Old But Gold
Medali perak bersama Amanda mungkin bukan sekadar cerita tentang posisi kedua. Di balik hasil tersebut terdapat keberanian Fahmi mengambil kesempatan dengan seekor kuda berusia 21 tahun, kerja keras tim dalam mempersiapkan kondisi Amanda, serta kepercayaan yang dibangun antara rider dan kudanya. Amanda membuktikan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti tampil, sementara Fahmi menunjukkan bahwa kualitas seorang rider juga terlihat dari kemampuannya mengeluarkan potensi terbaik dari kuda yang dipercayakan kepadanya.

Bagi RedaksiBerkuda.com, perkembangan Fahmi dalam beberapa pertandingan terakhir memang layak mendapatkan perhatian. Performa yang terus meningkat, ditambah kemampuannya membawa kuda dengan karakter dan kondisi yang berbeda, menjadi modal penting untuk mendapatkan kesempatan tampil di kejuaraan yang lebih bergengsi. Di Parongpong, Fahmi dan Amanda mungkin tidak datang sebagai pasangan yang paling diunggulkan, tetapi mereka pulang membawa medali perak dan sebuah cerita yang cukup kuat untuk mengingatkan kita bahwa dalam olahraga berkuda, pengalaman, keberanian, kerja keras, dan kepercayaan terkadang mampu mengalahkan apa yang tertulis di atas kertas. Old but gold, Amanda membuktikannya di tanah Parongpong.






