EMPAT RIDER, SATU LINTASAN
Perjalanan Brayen, Dirga, Marco, dan Arserl menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tinggal di depan mata. Di balik persiapan menuju Jepang, tim jumping Indonesia sudah lebih dulu menjalani perjalanan panjang di berbagai arena kompetisi. Empat rider yang dipercaya membawa Merah Putih adalah Brayen Nathan Brata-Coolen, Dirga Wira Ramadhan Sahputra, Marco Hence Wowiling, dan Arserl Rizki Brayudha.
Keempatnya punya cerita yang berbeda, tetapi satu benang merahnya sama: jam terbang internasional. Sepanjang 2026, mereka aktif mengikuti kompetisi dan menguji kemampuan di lintasan Eropa, sambil terus membangun chemistry dengan kuda yang akan menjadi partner mereka di Asian Games.
Brayen Nathan Brata-Coolen: Modal Juara, Tantangan Baru
Brayen datang dengan modal yang tidak kecil. Pada SEA Games Thailand 2025, ia menjadi juara individual show jumping dan ikut membawa Indonesia meraih emas beregu. Pengalaman tersebut membuat Brayen bukan hanya membawa kemampuan teknis, tetapi juga pengalaman menghadapi tekanan pertandingan besar.
Musim Eropa 2026 menjadi fase untuk terus mengasah kemampuan. Bersama Aragon Sheeba, Brayen tampil di Zuidwolde pada kelas 1,40 meter dan mencatat posisi 70, 36, dan 37 dalam tiga pertandingan pada 23–25 Juli. Bersama Aragon Castello H, ia kemudian finis ke-38 di kelas 1,45 meter pada 26 Juli.
Di Kronenberg pada Agustus, Brayen kembali turun di level 1,45 meter. Bersama Aragon Castello H ia finis ke-19 pada Medium Tour Final, sementara bersama Heliodor de Vains—partnernya untuk Asian Games—ia juga turun di Grand Prix 1,45 meter.
Brayen jelas punya target lebih tinggi dari sekadar tampil. Dengan pengalaman SEA Games dan jam terbang Eropa, ia kini harus kembali membuktikan bahwa dirinya siap menghadapi tekanan di level Asia.
Dirga Wira Ramadhan Sahputra: Dari Emas Beregu ke Level 1,50 Meter
Dirga mungkin tidak datang dengan label sebagai juara individual, tetapi perjalanannya juga menarik. Pada SEA Games 2025, ia menjadi bagian dari tim Indonesia yang merebut emas team jumping.
Setelah itu, Dirga terus menambah pengalaman di Eropa. Bersama Bella PS, ia tampil di Lichtenvoorde pada kelas 1,50 meter dan menempati posisi ke-34 dalam kualifikasi Grand Prix. Beberapa hari kemudian di Le Pin au Haras, ia turun di kelas 1,45 meter dan 1,50 meter, masing-masing finis ke-40 dan ke-81.
Pada akhir Juli, Dirga kembali tampil di Lier. Bersama Bella PS, ia finis ke-23 pada kelas 1,40 meter sebelum turun di kelas Longines Ranking 1,45 meter.
Angka-angka itu memang belum semuanya berujung podium. Tapi justru di sinilah prosesnya terlihat: Dirga terus berhadapan dengan lintasan 1,40 hingga 1,50 meter dan mengumpulkan pengalaman menghadapi kompetisi internasional.
Sekarang, Bella PS menjadi partner yang akan dibawanya ke Aichi-Nagoya.
Marco Hence Wowiling: Diam-Diam Mengumpulkan Jam Terbang
Marco Hence Wowiling mungkin tidak selalu menjadi nama yang paling banyak dibicarakan. Namun jangan salah, aktivitasnya di Eropa menunjukkan bahwa ia terus mengasah diri.
Bersama Ceico-blue PS, Marco tampil di beberapa kompetisi Eropa pada level 1,40–1,45 meter. Di Lichtenvoorde, ia bahkan beberapa kali berada dalam arena yang sama dengan rider Indonesia lainnya. FEI juga mencatat Marco sebagai atlet aktif Indonesia dengan puluhan start di nomor jumping.
Untuk Asian Games, Marco akan berpasangan dengan Chachezza PS. Kombinasi ini menjadi salah satu kartu Indonesia di arena jumping Aichi-Nagoya.
Perjalanan Marco mungkin tidak dihiasi banyak headline besar. Tetapi dalam show jumping, konsistensi, kemampuan membaca lintasan dan chemistry dengan kuda dibangun dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Dan itulah yang sedang dilakukan Marco.
Arserl Rizki Brayudha: Muda, Berani, dan Sudah Teruji
Arserl menjadi salah satu rider muda yang menarik perhatian. Pada SEA Games Thailand 2025, ia ikut membawa Indonesia meraih emas beregu dan kemudian merebut perunggu individual.
Awal 2026 juga langsung memberikan sinyal positif. Di Hub Equestrian Championship, Cibubur, Arserl meraih dua kemenangan pada kelas 120–125 cm dan 120–130 cm.
Setelah itu, level persaingannya terus dinaikkan di Eropa. Bersama Cavallo PB Z, Arserl tampil di kelas hingga 1,45 meter. Di Kronenberg pada Agustus, ia mengikuti Medium Tour Final 1,45 meter dan kemudian kembali turun di level 1,45 meter pada September.
Arserl memang masih muda, tetapi pengalaman SEA Games, kemenangan di dalam negeri dan jam terbang Eropa membuatnya datang ke Asian Games dengan modal yang semakin lengkap.
Empat Rider, Satu Misi
Kalau perjalanan mereka dilihat dari dekat, keempat rider ini sebenarnya sedang menjalani proses yang sama: menaikkan level sedikit demi sedikit.
Brayen membawa pengalaman sebagai juara SEA Games dan kini kembali diuji di level internasional bersama Heliodor de Vains.
Dirga terus memperbanyak jam terbang di lintasan 1,45–1,50 meter bersama Bella PS.
Marco mengasah konsistensi dan pengalaman kompetisi Eropa sebelum berpasangan dengan Chachezza PS.
Sementara Arserl membawa energi rider muda dengan pengalaman podium SEA Games dan semakin sering berhadapan dengan lintasan level tinggi bersama Cavallo PB Z.
PORDASI sendiri mengumumkan keempat kombinasi tersebut sebagai tim jumping Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026, yang berlangsung 19 September–4 Oktober.
Kini, semua pengalaman dari berbagai arena Eropa akan dibawa ke Jepang.
Di show jumping, tidak ada ruang untuk lengah. Satu palang jatuh bisa mengubah posisi. Satu kesalahan kecil bisa membuat perbedaan besar. Karena itu, yang dibutuhkan bukan cuma keberanian untuk melompat, tetapi juga ketenangan, ketepatan, kecepatan, dan chemistry antara rider dengan kudanya.
Brayen Nathan Brata-Coolen – Heliodor de Vains.
Dirga Wira Ramadhan Sahputra – Bella PS.
Marco Hence Wowiling – Chachezza PS.
Arserl Rizki Brayudha – Cavallo PB Z.
Empat rider. Empat kuda. Satu tim.
Dari arena-arena Eropa, mereka kini menuju satu panggung yang jauh lebih besar.
Aichi-Nagoya 2026.
Dan kali ini, targetnya bukan sekadar ikut bertanding.
Saatnya melompat untuk Merah Putih.






