Redaksi Berkuda – Depok. Di tengah menurunnya jumlah peserta pertandingan dressage pada musim kompetisi berkuda nasional 2026, Terapot Stable mengambil langkah untuk ikut menggairahkan kembali disiplin olahraga berkuda yang dikenal mengutamakan keharmonisan antara atlet dan kuda tersebut. Melalui penyelenggaraan Dressage Clinic dan Internal Competition pada 17–18 Oktober 2026, stable yang berlokasi di kawasan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, ini menggandeng salah satu pelatih berkuda papan atas nasional, James Octavianus Momongan.
Kegiatan yang dipusatkan di markas Terapot Stable tersebut menjadi momentum penting bagi stable yang baru sekitar lima bulan membuka layanannya untuk masyarakat umum. Tidak sekadar menghadirkan pelatihan teknik berkuda, kegiatan ini juga dirancang untuk memberikan pengalaman kompetisi sekaligus membangun kesiapan para atlet, khususnya pendatang baru yang tengah mempersiapkan diri memasuki arena pertandingan sesungguhnya.

Pemilihan dressage sebagai fokus utama bukan tanpa alasan. Disiplin yang menitikberatkan pada keseimbangan, ketepatan gerakan, komunikasi, serta keharmonisan antara atlet dan kuda ini dipandang sebagai fondasi penting dalam pembinaan kemampuan berkuda, termasuk bagi mereka yang kelak ingin mengembangkan prestasi di disiplin lain seperti show jumping.
MEMBANGUN FONDASI, MENYIAPKAN MENTAL BERTANDING
Head Coach Terapot Stable, Joyke Momongan, memandang kehadiran pelatih dari luar lingkungan stable sebagai bagian penting dalam proses pembinaan atlet. Menurutnya, evaluasi independen dibutuhkan untuk mengukur efektivitas program latihan sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek teknis yang masih perlu ditingkatkan.
“Kita butuh masukan dan evaluasi dari pihak luar untuk memberikan koreksi dari hasil latihan-latihan yang telah kami lakukan setiap harinya, dan ini akan menjadi bekal berharga bagi para atlet dalam menghadapi pertandingan atau kejuaraan,” ujar Joyke Momongan.

Melalui pendampingan James Octavianus Momongan, para peserta memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai teknik dasar dressage sekaligus mendapatkan koreksi langsung terhadap kemampuan yang telah dibangun melalui latihan rutin.
Menariknya, program tersebut tidak berhenti pada sesi pelatihan. Terapot Stable juga menghadirkan Internal Competition sebagai sarana bagi peserta untuk mengaplikasikan materi yang diperoleh dalam suasana menyerupai pertandingan sesungguhnya.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu para atlet membiasakan diri dengan tekanan kompetisi, meningkatkan konsentrasi, serta membangun kepercayaan diri sebelum menghadapi kejuaraan dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.
KOMITMEN DAN TANGGUNG JAWAB PEMBINAAN
Bagi pasangan pemilik Terapot Stable, Gusty Maulana dan Mela Andayani, penyelenggaraan Dressage Clinic dan Internal Competition merupakan bagian dari komitmen mereka untuk memberikan nilai tambah bagi para pengguna fasilitas berkuda yang mereka kelola.
Gusty menegaskan bahwa keberadaan sebuah stable idealnya tidak hanya menyediakan fasilitas latihan dan pemeliharaan kuda, tetapi juga mampu menghadirkan program pembinaan yang terarah untuk meningkatkan kualitas kemampuan para atlet.

“Menurut kami, dressage merupakan dasar-dasar penting yang harus dikuasai para rider sebelum mengembangkan kemampuan mereka ke disiplin lain seperti jumping dan lain-lain. Dalam pelatihan ini juga diberikan materi-materi tentang peraturan pertandingan, serta menghadirkan suasana pertandingan yang sesungguhnya untuk membangun mentalitas para rider,” terang Gusty Maulana.
Pandangan tersebut menjadi landasan Terapot Stable dalam menyusun program pengembangan atlet. Penguasaan teknik yang baik dinilai perlu berjalan beriringan dengan pemahaman regulasi pertandingan dan kesiapan mental, sehingga para atlet tidak hanya mampu menampilkan keterampilan berkuda, tetapi juga memahami tuntutan ketika memasuki arena kompetisi.
Di sisi lain, kehadiran program pembinaan semacam ini juga menjadi angin segar bagi perkembangan dressage nasional. Di tengah kecenderungan menurunnya partisipasi peserta sepanjang musim kompetisi 2026, inisiatif dari stable-stable di tingkat akar rumput dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesinambungan regenerasi atlet.
PROGRAM BERKELANJUTAN DAN TERBUKA UNTUK STABLE LAIN
Keseriusan Terapot Stable dalam mengembangkan program pembinaan juga ditegaskan Mela Andayani. Ia memastikan bahwa kegiatan tersebut tidak dirancang sebagai agenda sesaat, melainkan akan menjadi bagian dari program rutin stable.
Menurut Mela, penyelenggaraan pelatihan secara berkala diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada para atlet untuk terus mengevaluasi perkembangan kemampuan mereka dari waktu ke waktu.

“Kegiatan pelatihan ini akan terus kami selenggarakan setidaknya setiap dua atau tiga bulan sekali. Tidak hanya berhenti di dressage, ke depannya kami juga akan menggelar pelatihan untuk jumping dan tentunya dengan pelatih-pelatih berkuda yang profesional,” ungkap Mela Andayani.
Hal menarik lainnya, Terapot Stable juga membuka kesempatan bagi atlet maupun penghobi berkuda dari stable lain untuk mengikuti program serupa. Dengan demikian, manfaat pelatihan tidak hanya dirasakan oleh para anggota Terapot Stable, tetapi juga dapat menjangkau komunitas berkuda yang lebih luas.
Keterbukaan tersebut sekaligus memperlihatkan keinginan Terapot Stable untuk ikut berkontribusi dalam membangun ekosistem pembinaan olahraga berkuda, khususnya melalui peningkatan kualitas sumber daya atlet di tingkat pemula dan usia muda.
TERAPOT STABLE DAN POTENSI PENGEMBANGAN OLAHRAGA BERKUDA
Meski tergolong baru membuka layanan untuk umum, Terapot Stable telah memiliki sejumlah fasilitas penunjang aktivitas berkuda. Stable ini dilengkapi lapangan latihan berukuran 50 x 25 meter serta memiliki 20 ekor kuda, dengan 10 ekor di antaranya dipersiapkan untuk mendukung kegiatan Riding School.

Tidak hanya menyasar kalangan atlet dan penghobi berkuda, Terapot Stable juga berupaya mendekatkan olahraga equestrian kepada masyarakat umum melalui konsep fasilitas yang lebih terbuka dan ramah pengunjung.
Keberadaan kafe bernuansa olahraga berkuda menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menikmati suasana lingkungan stable sekaligus mengenal aktivitas berkuda dari dekat. Fasilitas Pony Ride juga disediakan sebagai sarana pengenalan olahraga berkuda, khususnya bagi anak-anak dan keluarga.
Konsep tersebut diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas minat masyarakat terhadap olahraga berkuda, sekaligus membuka peluang lahirnya calon-calon atlet baru pada masa mendatang.

Semangat pembinaan atlet muda juga tercermin dari kiprah Muhammad Uwais Alqarni, putra pasangan Gusty Maulana dan Mela Andayani. Uwais merupakan salah satu atlet muda Terapot Stable yang menunjukkan potensi dalam olahraga equestrian.
Kemampuannya mulai terlihat melalui sejumlah penampilan dan pencapaian dalam berbagai kejuaraan berkuda. Pengalaman bertanding yang terus bertambah menjadi modal penting bagi Uwais untuk mengembangkan kemampuan sekaligus meningkatkan daya saingnya pada jenjang kompetisi berikutnya.
Kehadiran atlet-atlet muda seperti Uwais menjadi gambaran bahwa proses regenerasi membutuhkan dukungan yang berkesinambungan, mulai dari fasilitas yang memadai, pendampingan pelatih, hingga kesempatan mengikuti kompetisi.

Bagi Terapot Stable, penyelenggaraan Dressage Clinic dan Internal Competition pada akhir pekan ini menjadi langkah awal dari perjalanan yang lebih panjang. Dengan menggabungkan pembinaan teknik, penguatan mental bertanding, dan keterbukaan terhadap komunitas berkuda, stable yang berbasis di Bojongsari tersebut berupaya mengambil peran dalam menyiapkan generasi baru atlet equestrian Indonesia.
Di tengah tantangan perkembangan dressage nasional, inisiatif seperti ini setidaknya menghadirkan optimisme bahwa upaya membangun prestasi tidak selalu harus dimulai dari kejuaraan besar, tetapi juga dapat tumbuh dari arena latihan dan kompetisi sederhana yang dikelola secara konsisten.






