BerandaRagamDRESSAGE CLINIC TERAPOT STABLE, JAMES MOMONGAN APRESIASI KEMAMPUAN PARA PESERTA

DRESSAGE CLINIC TERAPOT STABLE, JAMES MOMONGAN APRESIASI KEMAMPUAN PARA PESERTA

Redaksi Berkuda – Depok. Ada yang berbeda dari penyelenggaraan Dressage Clinic & Internal Competition di Terapot Stable, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, pada 17–18 Oktober 2026. Jika umumnya kegiatan pelatihan berkuda diawali dengan pemberian materi dan diakhiri kompetisi, Terapot Stable justru menerapkan pola sebaliknya, yakni menggelar pertandingan terlebih dahulu sebelum para peserta mendapatkan evaluasi dan pelatihan langsung dari pelatih berkuda legendaris nasional, James Octavianus Momongan.

Konsep tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam kegiatan yang berlangsung lancar dan sukses dengan melibatkan 22 rider pada kompetisi internal dressage. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16 rider melanjutkan ke sesi Dressage Clinic yang dipandu langsung oleh James Momongan pada hari berikutnya.

James Octavianus Momongan

Bukan sekadar menghadirkan suasana kompetisi, pendekatan ini dirancang agar para peserta dapat mengetahui secara langsung kekurangan dan kelemahan mereka ketika tampil di arena pertandingan. Hasil penampilan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar pemberian materi pelatihan yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing rider.

KOMPETISI DAHULU, EVALUASI KEMUDIAN

Head Coach Terapot Stable, Joyke Momongan, menjelaskan bahwa penerapan konsep kompetisi sebelum pelatihan merupakan langkah yang sengaja dipilih untuk memperoleh gambaran lebih objektif mengenai kemampuan para rider. Melalui kompetisi internal, pelatih dapat mengamati bagaimana peserta menerapkan teknik yang selama ini dipelajari dalam latihan rutin, terutama ketika harus tampil dalam situasi pertandingan yang menuntut konsentrasi, ketepatan gerakan, serta kemampuan mengendalikan kuda.

“Meskipun secara dasar materi pelatihan yang telah kami berikan kepada para rider sama dengan yang disampaikan saat mengikuti clinic, kami tetap membutuhkan masukan dan penilaian dari pihak luar untuk mengembangkan kemampuan mereka. Dalam hal ini, kami mempercayakannya kepada Coach James Momongan,” ujar Joyke Momongan.

Joyke Momongan

Menurut Joyke, penilaian dari pelatih eksternal memiliki arti penting untuk melengkapi proses pembinaan yang telah berjalan. Koreksi dan evaluasi tersebut diharapkan mampu memberikan sudut pandang berbeda terhadap perkembangan kemampuan setiap rider, termasuk aspek-aspek teknis yang mungkin belum terlihat dalam aktivitas latihan sehari-hari.

Lebih jauh, Joyke menilai kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengukur kesiapan para rider pendatang baru sebelum mengikuti kejuaraan berkuda yang sesungguhnya. Dengan mengetahui kemampuan dan kelemahan masing-masing peserta sejak dini, program latihan selanjutnya dapat disusun secara lebih terarah sehingga para rider memiliki bekal yang cukup ketika menghadapi persaingan di tingkat kompetisi yang lebih tinggi.

JAMES MOMONGAN: DRESSAGE ADALAH FONDASI PENTING ATLET BERKUDA

Sementara itu, James Octavianus Momongan menegaskan bahwa penguasaan dressage merupakan salah satu kemampuan mendasar yang wajib dimiliki setiap atlet berkuda, terlepas dari disiplin yang nantinya mereka tekuni. Menurut James, dressage bukan semata-mata tentang kemampuan menampilkan rangkaian gerakan di arena pertandingan, tetapi juga membangun komunikasi yang efektif antara atlet dan kuda. Kemampuan tersebut menjadi fondasi penting untuk menghasilkan kendali, keseimbangan, serta respons yang baik dari kuda terhadap instruksi penunggangnya.

“Dressage sangat mengedepankan harmoni dan ritme yang dapat dihasilkan dari chemistry yang baik antara kuda dan atlet. Semua itu dapat diraih dengan memaksimalkan kolaborasi, seperti posisi duduk yang baik serta gerakan tangan dan kaki,” jelas James Momongan.

Salah satu peserta Dressage Clinic Terapot Stable

Dalam pelatihan tersebut, James memberikan perhatian terhadap penguasaan teknik-teknik dasar yang berhubungan dengan posisi tubuh, penggunaan bantuan tangan dan kaki, serta kemampuan menjaga ritme gerakan kuda. Keselarasan antara atlet dan kuda, menurutnya, tidak dapat dibangun secara instan. Dibutuhkan latihan yang konsisten agar komunikasi keduanya semakin baik, sehingga setiap instruksi dapat diterjemahkan menjadi gerakan yang tepat tanpa mengganggu keseimbangan maupun kenyamanan kuda.

16 SESI DALAM SEHARI, JAMES MOMONGAN PUAS DENGAN HASILNYA

Menariknya, penyelenggaraan Dressage Clinic kali ini juga memberikan pengalaman tersendiri bagi James Momongan. Pelatih senior tersebut mengaku baru pertama kali menangani sebanyak 16 sesi pelatihan dalam satu hari. Meski harus mencurahkan perhatian dan energi untuk mendampingi para peserta secara bergantian, James mengaku puas melihat kemampuan serta respons positif para rider dalam menerima koreksi dan materi yang diberikan.

“Ini sangat luar biasa. Baru kali ini saya turun melatih sebanyak 16 sesi dalam sehari. Namun, saya puas dengan hasilnya. Para rider dapat memahami materi dan teknik-teknik dasar yang diberikan selama pelatihan. Sekarang tinggal bagaimana mereka tekun berlatih dan menambah pengalaman dan tingkat akurasi dengan mengikuti pertandingan,” ungkap James.

Evaluasi dan koreksi, jadi menu pelatihan

Berdasarkan hasil pengamatannya, James juga sependapat dengan Joyke Momongan bahwa para rider yang telah mengikuti kegiatan tersebut pada dasarnya sudah memiliki bekal untuk mulai diterjunkan dalam berbagai kejuaraan berkuda. Namun demikian, kesiapan tersebut tetap harus dibarengi dengan upaya memperbaiki sejumlah kelemahan teknis yang ditemukan selama evaluasi, sekaligus meningkatkan konsistensi melalui latihan dan pengalaman bertanding.

Penilaian tersebut menjadi kabar positif bagi Terapot Stable, khususnya dalam upaya mempersiapkan atlet-atlet pendatang baru agar tidak hanya menguasai teknik berkuda, tetapi juga memiliki kesiapan mental untuk menghadapi atmosfer kompetisi.

TERAPOT STABLE SIAP LANJUTKAN PROGRAM PEMBINAAN

Keberhasilan penyelenggaraan Dressage Clinic & Internal Competition ini semakin memperkuat komitmen pasangan pemilik Terapot Stable, Gusty Maulana dan Mela Andayani, untuk terus mengembangkan program pembinaan atlet berkuda melalui kegiatan pelatihan yang berkesinambungan.

Sertifikat bagi para peserta

Bagi keduanya, keberadaan fasilitas berkuda tidak hanya ditujukan sebagai tempat berlatih, tetapi juga diharapkan mampu menjadi wadah pengembangan kemampuan para rider, khususnya atlet-atlet pemula yang membutuhkan pendampingan serta kesempatan untuk mengasah pengalaman bertanding.

Meskipun kegiatan kali ini masih diprioritaskan bagi para member Terapot Stable, Gusty dan Mela tidak menutup kemungkinan untuk membuka partisipasi yang lebih luas bagi rider dari stable lain pada penyelenggaraan berikutnya. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan ruang interaksi dan pembelajaran yang lebih besar bagi komunitas berkuda, sekaligus menjadi motivasi bagi para atlet untuk terus meningkatkan kemampuan mereka.

Gusty Maulana dan Mela Andayani bersama Muhammad Uwais Alqarni

Dengan memadukan kompetisi sebagai sarana pengukuran kemampuan dan pelatihan sebagai media evaluasi, Terapot Stable mencoba menghadirkan pendekatan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada hasil pertandingan, tetapi juga pada proses peningkatan kualitas atlet secara bertahap.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program pembinaan tidak semata-mata diukur dari banyaknya peserta atau kelancaran penyelenggaraan kegiatan, melainkan dari sejauh mana ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten dalam latihan maupun kompetisi berikutnya.

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

berita terbaru

Recent Comments